Sukses sekali - 3

Kunyalakan lampu hotel dengan memasukkan kartu berlobang tadi di kotak yang terpasang di tembok belakang pintu. Byar. Kupandangi kumis tipis dan bulu-bulu kucingnya. Kupepet ke tembok. Kuangkat roknya sehingga melampau CD-nya, kuusap-usap pahanya. Kutekan 'bocal' di pangkal pahaku yang sudah semakin keras ke arah memeknya yang masih tertutup CD sambil kuangkat paha kanannya. Kuambil kedua tangannya terangkat dan kuletakkan di atas kepalanya menempel tembok. Tas tangannya terjatuh di lantai. Kupagut bibirnya kuat-kuat. Kumasukkan lidahku menyenggamai lidahnya. Dadaku kugesek-gesekkan ke toketnya yang menggunung itu.

"Shhss.. Ehhss..." begitu bunyinya. Semakin nafsu aku. Kulepas tangannya dan kusibakkan rambutnya. Kuselusuri telinga dan lehernya. Tekananku di tempat-tempat lain tak kulonggarkan sama sekali. Malah semakin menguat.

"Heemmff.. Aahh.. Sshh..." matanya mulai meredup dan bola hitamnya sudah di sisi atas. Seksi sekali. Aku harus membuang pikiran biar tidak cepat panas lalu tumpah duluan. Kuturunkan tangan kiriku menelusuri ke bawah. Kuusap-usap gundukan yang masih tertutup CD-nya. Kujilati dagunya, menengadah kepalanya. Kutengok sebentar bibirnya, lalu kujilati kumis tipisnya dari sisi ke sisi. Terus berulang-ulang.

"Ehhmmff.. Oohh.. Ehhsshh," bola hitamnya semakin menghilang. Wajahnya merona seksi. Dadanya maju mundur berlawanan dengan pantatnya. Usapan-usapanku di gundukan memeknya terus berlangsung.

Kedua tanganku mulai menggerayangi pantatnya yang padat. Kuremas-remas lalu kubawa maju biar menekan 'maskot'-ku sekuat-kuatnya. Posisi kaki-kakinya mengangkangi kaki-kakiku. Wow seksi sekali kalau diabadikan.

Akhirnya aku melepaskannya untuk beristirahat sambil mencari udara segar. Kami menuju ranjang. Dia melepas jas hijaunya lalu ditaruh di kursi. Aku membuka botol air mineral lalu kunyalakan rokok. Kusetel TV lalu aku menuju sisi kiri ranjang yang berdekatan dengan meja biar mudah menjangkau asbak. Aku berbaring sambil menonton TV. Dia melepaskan rok dan kaosnya, Bra dan

CD masih dikenakan lalu menyusul berbaring dan memelukku dengan posisi miring. Kepala disandarkan ke dadaku, toket menekan dadaku, dan kaki kanannya ditumpangkan di atas kaki kananku. Kuhisap rokokku satu dua. Jari-jarinya memencet-mencet hidungku. Menjawil-jawil bibirku. Lalu hidungnya digesek-gesekan ke pipiku. Kubiarkan agak lama masa gencatan senjata ini.

Tapi tangan kananku yang bebas dari batang rokok mengusap-usap pahanya yang menumpangi pahaku. Sesekali kusambut ciumannya. Aku ingin berlama-lama menikmati ritual persenggamaan ini. Tidak langsung bless bless crett creett.

Sebatang rokokku sudah habis. Kuajak dia menuju kamar mandi. Dilepasnya Bra dan CD-nya, aku lepas semua pakaianku. Kami bertelanjang menuju kamar mandi. Dalam perjalanan kuremasi pantatnya. Dia cekikikan. Dia menjamah kontolku yang sudah mulai reda dari ketegangan.

Kuputar kran shower, kutunggu sebentar dan kurasakan air sudah mulai hangat. Kubimbing dia menuju di bawah kran. Kusabuni bagian punggungnya. Bulu-bulu kucingnya nampak tegas di bawah guyuran air. Seluruh tubuhnya memiliki bulu kucing, halus dan panjang.

Dengan lembut kusabuni mulai dari tengkuknya. Menggelinjang kegelian sehingga terkikik-kikik. Kutelusuri sampai ke pantatnya. Pas di belahan pantatnya sengaja sabun kususupkan. Cekikikan lagi. Kusabuni pahanya sampai ke betisnya. Kubalikkan tubuhnya. Lehernya kugosok-gosok. Terangkat-angkat pundaknya kegelian. Tubuhnya dipenuhi busa. Kuangkat tanganya lalu kusapu

Ketiaknya dengan busa. Bulu kucing di ketiaknya lebih tegas dari wilayah lainnya. Belum dicukur bulunya. Ingin kujilat kalau aku enggak mencoba menahan diri. Buah dadanya kusabuni dengan cari melingkar dan meremas.

Tangannya yang tadi diangkat tiba-tiba turun bertumpu ke pundakku. Mencoba menahan birahi yang terbangkit. Lalu tanganku meluncur ke perut sebelum dia terbangkit lebih jauh. Masalahnya kalau dia mendesah-desah aku juga ikut hanyut. Giliran kugosok selangkangannya, sengaja tidak kusentuh veginya, lalu sampai ujung kakinya.

Selesai kupenuhi tubuhnya dengan busa, kubilas sampai habis busa yang menempel di tubuhnya. Kudekap dari belakang ingin menikmati wangi sabun sambil kuremas-remas teteknya. Tangan kanannya menjangkau ke belakang mencari-cari 'my johnny'. Tangan kananku meremas tetek kanannya, tangan kiriku turun membekap gundukan veginya lalu kuusap-usap. Gairah kami mulai mendaki. Kontolku dikocoknya pelan. Jari-jariku mulai menekan-nekan pangkal bibir vegi bagian atasnya.

"Oohsshh.. Oohhss..." erangan kami mulai menggema di toilet. Semakin kuat kocokannya, semakin cepat tekanan-tekananku di pangkal veginya itu. Lalu kujebloskan jariku mencari itilnya.

"Yyaa.. Masshh.. Dii.. Ssiittuu.. Ceeppettinnh.. Oohh.. Sshh," mulai meningkat pacuan hormon libidonya.

Meskipun pegel jariku mengocok itilnya namun kuberjuang terus sampai kubuat dia merem melek, kepalanya tertunduk dan tertegak bergantian.

Pantatnya menekan ke belakang semakin kuat sementara pegangan di kontolku dilepasnya. Dia sudah tenggelam dalam kenikmatannya sendiri. Biarlah dia duluan yang kupuaskan.

"Yaahh.. Eegghh.. Terussh.. Teruussh.. Masshh.. Ouuhss".

Kontolku kujepitkan di selangkangannya. Aku nggak tahan, kucari lubang veginya lalu kuparkir di sana. Cairan sudah mulai memenuhi rongganya. Pantatnya mulai dimaju mundurkan. Kutahan dulu. Aku ingin dia orgasme duluan. Kupercepat kocokanku. Tangannya memegang tembok sambil menungging-nungging.

Kesadarannya sudah lenyap dilanda gelombang birahi yang kupersembahkan melalui jari-jariku. Setelah 15 menit tiba-tiba dia terpekik dan mengejang hebat.

"Oohhgg..."

Dirinya terbujur lemas setelah mencapai orgasme yang pertama sambil menyender ke tembok setelah menyemprotkan cairan di liang veginya. Kedutan-kedutan veginya yang cepat dan kuat menyebabkan aku ingin segera menyetubuhinya. Kugenjotkan kontolku maju mundur yang dari tadi sudah parkir di sana dengan perlahan. Kunikmati detik demi detik gesekan penuh antara permukaan kulit kontolku dengan kulit veginya yang masih kuat erat mencengkeram. Alangkah lezatnya.

Kumenunduk untuk menjangkau teteknya yang masih tegang.

"Sshh.. Shh..."

Mulai naik lagi birahinya. Tubuhnya bergoncang maju mundur seiring sodokan-sodokanku. Kusenggamai dia dari belakang selama 5 menit sebelum akhirnya kubalikkan dan kunaikkan dipangkuanku. Kuangkat lalu kumasukkan kontolku di veginya, kugenjot lagi dalam posisi berdiri. Kaki-kakinya membelit melingkari pinggangku. Kudekap erat sehingga tetek-teteknya menekan dadaku kuat-kuat. Kusedot lehernya dengan nafsu. Kugenjot, kupompa, kusodok sehingga dia tersentak-sentak naik turun. Matanya telah hilang di dalam pelupuknya yang menutup. Rambutku dijambak kuat-kuat.

"Aahh.. Ahh.. Ahh..." semakin kuat jambakannya. Aku semakin gregetan melihatnya telah kalap tenggelam dalam luapan birahi. Kujilati putingnya. Semakin liar kepalanya menekuk-nekuk ke samping. Lepas tangannya dari rambutku. Tangannya menjambaki rambutnya sendiri sekarang. Semakin kuat sodokanku, seolah-olah kuingin menembuskan kontolku sampai ke perutnya.

Nafas-nafas kami sudah berat dan terengah keras pertanda jantung sedang bekerja keras (penelitian mengatakan kalor yang dikeluarkan orang bersenggama melebihi olah raga renang). Keringat kami banjir hebat bercampur air mandi kami. Sambil masih terbenam kontolku di veginya, kugotong dia menuju ranjang.

Kurebahkan, kuangkat kakinya di atas pundakku, kupompa kembali liang memeknya yang sudah diluberi cairan kewanitaannya yang sudah amat sangat beceknya.

"Clop.. Clop.. Clop..." merembes cairannya membasahi sprei. Kutopangkan tangan-tanganku di kasur. Kaki-kakinya semakin tertekuk, bahkan paha-pahanya menyentuh perutnya sendiri. Kugenjot habis dalam posisi aku berdiri miring. Keringatku mengucur tumpah menimpa tubuhnya. Gila, kuat sekali aku kali ini. Sudah hampir setengah jam lebih aku belum keluar juga.

Aku naik ranjang, kumiringkan posisinya lalu kuangkat paha kanannya. Sekarang aku leluasa memasukkan kontolku dari belakang.

Kusenggamai dari belakang dalam posisi berbaring. Teknik ini baru kupraktekkan sekarang. Aku melihat film bokep di mana kontol gede dan panjangnya si cowok menghunjam dari belakang, sangat panjang sehingga masih tersisa separuh meskipun yang separuh sudah dalam menyeruak di dalam vegi ceweknya. Aku horni sekali melihatnya. Sambil kuhujami memeknya, kuremasi teteknya, kuciumi punggungnya. Gila, nikmmaatt sekalee.

"Yeesshh.. Oogghh.. Yyesshh.. Oouughh..." lenguhan-lenguhan panjangnya menandai orgasmenya bakalan datang lagi. Aku jadi ikut terangsang dan terpacu juga untuk segera mencapai klimaks. Tangannya kalang kabut mencengkeram sprei. Ranjang kami berdentam-dentam menghantam tembok. Tetangga kamar sebelah pasti akan terganggu sekali dengan kebisingan olah asmara kami. Namun kayaknya malam ini hotel sepi dari tamu. Semoga tidak ada tamu di sekitar.

Dan, "oouugghh.. Aarrgghh..." akhirnya kami bersamaan menyemburkan cairan dari alat-alat reproduksi kami seolah berliter-liter banyaknya. Akhirnya kami lemas dan letih tak terperi sampai seperti lumpuh rasanya.

Dengkul-dengkulku benar-benar seperti terlolosi. Nafasku jadi panjang-panjang kayak ikan megap-megap kekurangan zat asam. Tak tertahankan akhirnya kami jatuh tertidur sampai pagi.

[Selesai Sudah]

Pagi-pagi jam 7 sebelum pulang ke rumah untuk bersiap-siap ke kantor baru kujawab SMS pacarku minta maaf bahwa semalam aku sudah ketiduran sehabis ngobrol sama teman lamaku sampai larut. Memang pacarku tahu kebiasaanku dulu suka ngobrol dengan kawan-kawanku sampai larut.

Sebenarnya kejadian-kejadian yang baru kualami di luar dugaan, hanya sekadar iseng. Bahkan aku masih tidak percaya kalau aku bisa seberani itu. Selama ini aku tidak berani menyapa cewek asing di tempat umum. Malu.


E N D

0 comments:

Post a Comment