Wanita Indonesia - Umi - 3

Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pelayaran ini dan berlabuh di pulau impiannya. Aku menghentikan gerakanku untuk mengurangi rangsangan yang ada karena desiran-desiran di mulut penisku makin kencang. Aku tidak mau dikalahkannya. Aku sebenarnya ingin menyelesaikannya dengan posisiku di atas sehingga aku bisa menghunjamkan kemaluanku dalam-dalam. Namun kali ini aku mengalah, biarlah ia yang menekankan pantatnya kuat-kuat.

Setelah beberapa saat rangsangan itu menurun kembali kugerakkan. Kini penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot antara buah zakar dan anusku seolah-olah menahan kencing. Kulihat reaksinya. Ia kembali merebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya berkejap-kejap dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Akupun merasa tak tahan lagi dan akan segera menembakkan peluruku. Aku berada pada satu titik dimana aku tidak bisa kembali lagi. No return point. Akhirnya beberapa detik kemudian..

Rintik hujan masih terdengar di atas atap dan dari speaker terdengar Simon and Garfunkel berteriak di akhir lagunya.. Like a bridge over troubled water, I will lay me down..

"Anto.. Sekarang say.. Sekarang.. Hhhuuaahh!" Ia kini memekik kecil.

Pantatnya menekan kuat sekali di atas pahaku. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Aku menahan tekanan pantatnya dengan menaikkan pinggulku. Bibirnya menciumiku dengan pagutan-pagutan ganas dan diakhiri dengan gigitan pada dadaku. Desiran dan aliran yang sangat kuat membersit lewat lubang meriamku. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kutekankan kepalanya di dadaku. Napas yang bergemuruh kemudian disusul napas putus-putus dan setelah tarikan napas panjang ia terkulai lemas di atas tubuhku.

Denyutan demi denyutan dari kemaluan kami masing-masing kemudian melemah. Spermaku yang masuk dalam vaginanya sebagian tertumpah keluar lagi di atas pahaku. Ia berguling ke sampingku sambil tangan dan mukanya tetap berada di leherku. Kuberikan kecupan ringan pada bibir, dan usapan pada pipinya.

"Terima kasih To. Kamu sungguh luar biasa. Aku sudah mengira kamu sangat perkasa, namun tidak sampai begini nikmat dan indah. Perkasa dan romantis. Thanks". Katanya lembut.

Kami masih berpelukan sampai keringat kami mengering. Setelah mandi dan hendak mengenakan pakaian, Umi menahan tanganku yang sudah memegang celana dalam.

"Kamu tidur disini saja malam ini, please. Besok berangkat dari sini saja. Aku ada kemeja yang ukurannya cocok dengan badanmu. Aku.. Masih..".

Ia tersipu-sipu dan tidak melanjutkan perkataannya. Aku melihat jam dan berpikir sejenak. Ternyata sudah hampir satu jam kami membagi kehangatan. Toh kupikir hujan deras dua jam lebih tadi pasti akan membuat jalan ke arah rumahku kebanjiran.

Ketika kami membersihkan badan di kamar mandi, sempat kulihat benda putih sepanjang kurang lebih 20 cm dan sebesar jempol kaki di atas perlengkapan mandinya. Kuambil dan kuamati. Umi merebutnya dari tanganku dan menyembunyikan di balik tubuhnya. Wajahnya kembali terlihat memerah tersipu.

"Tangan kamu usil deh, nggak bisa lihat barang nganggur!" katanya sambil merengut dan mencubitku.

Hmmhh Tongkat Madura. Pantas saja tadi harus dibantu baby oil, pikirku. Kami masih ngobrol sebentar dan kutanyakan kenapa dia nggak mau doggy style.

"Kata orang nanti kengser. Aku sebenarnya tidak percaya, tapi berjaga-jaga saja. Toh masih banyak posisi yang dapat dilakukan dan dinikmati" katanya. Kengser adalah kondisi rahim yang bergeser turun.
Ketika kutanya pandangannya tentang oral sex ia menjawab, "Aku sendiri tidak suka dan tidak bisa menikmatinya. Paling jauh seperti tadi, tidak sampai mengenyotnya".

Mengenai hubungan sex tadu yang berlangsung dengan tempo pelan ia menyatakan bahwa tidak selalu begitu, kadang juga bisa dengan tempo cepat dan gairah yang panas.

"Boleh dicoba nanti?" pancingku.
"Hmm.." jawabnya sambil mengecup lenganku.

Dimatikannya CD player dan tidak lama tarikan nafas halus dan teratur keluar dari hidungnya. Malam itu kami tidur dengan telanjang dan berpelukan ditutup selimut ditemani dengan suara rintikan hujan. Aku tidak tahu sudah tidur berapa lama ketika kurasakan sebuah lengan melingkar di pinggangku dan sebuah benda padat lunak menekan rusukku. Aku memejamkan mata dan terkejut melihat dimana aku berada. Sedetik kemudian aku tersadar di mana aku sekarang berada.

Umi membuka matanya mengambil arloji di atas kepalanya dan melihat sebentar.

"Hmm.. Baru jam satu, tidur lagi yuk!" katanya sambil memejamkan matanya dan tangannya memelukku kembali.
Kucium ketiaknya dan kugelitikin pinggangnya. Ia menguap dan meregangkan badannya.
"Ooahh, kamu emang..!" Tangannya menangkap tanganku.

Kudaratkan sebuah ciuman pada bibirnya. Ia mengelak dan berdiri berjalan ke arah kulkas di dalam kamarnya. Mengambil air putih, meminum dan mengangsurkannya kepadaku. Aku duduk, kusambut dan kuhabiskan sisa air dalam gelas tadi. Umi masih berdiri dalam keadaan telanjang. Kuamat-amati tubuhnya yang memang aduhai. Pantatnya besar dan menonjol ke belakang, sementara di dadanya ada segunduk daging yang bulat kencang dengan tonjolan coklat kemerahan yang berdiri tegak.

Ia menghenyakkan pantatnya di pahaku. Meraih tombol CD player dan kembali lagu barat lama "A Time for Us" terdengar. Bibirnya mendarat di bibirku. Kali ini ia menciumiku dengan ganasnya. Akupun membalas dengan tak kalah ganasnya. Kuremas buah dadanya dengan keras. Ia mendorongku dan beberapa saat kemudian kami sudah bergulingan di atas ranjang besar yang empuk.

Aku menindih dan menjelajahi sekujur tubuhnya. Ia menggeliat-geliat hebat dan mengerang. Mulutnya mendekat ke telingaku dan berbisik.

"Ouuhh.. Anto.. Sekarang terserah kamu. Aku akan mengimbangi dan mengikutimu, terserah apapun yang akan kau lakukan..".
"Aku akan membawamu ke dalam gelombang lautan percintaan yang dahsyat.." kataku membalas bisikannya.
"Ouhh.. Ter.. Serr.. Rah kamu.. Saja..!"

Dari dada, lidahku pindah ke samping menyusuri pinggul dan pinggangnya, ke arah perut dan pahanya. Aku mencoba untuk mendekatkan hidungku ke sela pahanya, namun tangannya menutupi celah paha tersebut. Umi meronta hebat penuh kenikmatan sewaktu tanganku memainkan puting buah dadanya. Tangannya terlepas dan hidungku kutempelkan di bibir vaginanya. Tercium aroma yang segar dan khas. Namun aku tidak mau memasukkan lidahku ke dalam vaginanya, karena ingat tadi ia berkata tidak bisa menikmatinya. Kulebarkan pahanya dan aku hanya memberikan rangsangan di pangkal pahanya, kemudian turun dan menciumi lututnya. Ketika kugigit lututnya ia mengejang.

"Ampun.. Too.. Antoo.. Jangan.. Cukup.. Cukup!" pekiknya.

Bibirku naik ke leher dan menjilatinya. Elusan tanganku pada pinggangnya membuat ia meronta kegelian. Kuhentikan elusanku dan tanganku meremas lembut buah dadanya dari pangkal kemudian ke arah puting. Kumainkan jemariku dari bagian bawah, melingkari gundukannya dengan usapan ringan kemudian menuju ke arah putingnya. Sampai batas puting sebelum menyentuhnya, kuhentikan dan kembali mulai lagi dari bagian bawah.

Kugantikan jariku dengan bibirku, tetap dengan cara yang sama kususuri buah dadanya tanpa berusaha mengenai putingnya. Kini ia bergerak tidak karuan. Semakin bergerak semakin bergoyang buah dadanya dan membuat jilatanku makin ganas mengitari gundukan mulus itu. Setelah sebuah gigitan kuberikan di belahan dadanya, bibirku kuarahkan ke putingnya, tapi kujilat dulu daerah sekitarnya yang berwarna merah sehingga membikin Umi penasaran dan gemas.

"To.. Jangan kau permainkan aku.. Isep cepetan yang," pintanya.

Aku masih ingin mempermainkan gairahnya dengan sekali jilatan halus di putingnya yang makin mengeras itu. Umi mendorong buah dadanya ke mulutku, sehingga putingnya langsung masuk, dan mulailah kukulum, kugigit kecil serta kujilat bergantian. Tanganku berpindah dari pinggang ke vaginanya yang kini menjadi agak basah. Tidak seperti pada permainan pertama tadi.

Jariku tengah kiriku kumasukkan ke dalam vaginanya dan tidak lama sudah menekan apa yang dicarinya. Lumatan bibirku di puting Umi makin ganas. Ia berusaha mengulingkan badanku tetapi kutahan. Kali ini aku yang harus pegang kendali.

"Aaagh..", ia memekik-mekik. Kuciumi lagi bibir dan lehernya. Adik kecilku makin membesar dan mengganjal tubuh kami di atas perutnya.

Kupikir kini saatnya untuk memberinya. Kuangkat pantatku sedikit dan iapun mengerti. Dikocoknya penisku sampai keras sekali dan ku kangkangkan pahanya lebar-lebar. Tangannya kembali bergerak mencari dan memegang botol baby oil tadi. Kupegang tangannya dan kukatakan, "Jangan dulu yang, coba saja dulu!"

Diarahkannya penisku ke vaginanya dan "Masukin To.. Cc. Cepaat!," pinta Umi sambil semakin melebarkan pahanya. Kudorong sekali namun meleset juga. Kini kucoba kedua kali dan berhasil. Kugerakkan penisku pelan-pelan dan semakin lama semakin cepat. Agaknya perjuangan sekarang lebih mudah daripada saat pertama tadi.

Vagina Umi makin lembab, namun tidak sampai becek. Umi langsung mengerang hebat merasakan hunjaman penisku yang keras dan bertubi-tubi. Tangannya mencengkeram pinggulku. Gerakan maju-mundurku diimbanginya dengan memutar-mutarkan pinggulnya, semakin lama gerakan kami semakin cepat. Kini ia semakin sering memekik dan mengerang. Tangannya kadang memukul-mukul punggungku. Kepalanya mendongak ketika kutarik rambutnya dengan kasar dan kemudian kukecup lehernya dan kugigit bahunya.

"Ouhh.. Ehh.. Yyyeesshh!"

Setelah beberapa lama kuminta dia untuk di atas. Dengan cepat kami berguling. Tak berapa lama kemudian penisku sudah terbenam di liang vaginanya. Umi menaikturunkan pantatnya dengan posisi jongkok. Ia seperti penunggang kuda yang sedang memacu kudanya dalam lembah kenikmatan mendaki menuju puncak. Tubuhnya naik turun dengan cepat dan kuimbangi dengan putaran pinggulku, sementara buah dadanya yang tegak menantang kuremas-remas dengan tanganku. Gerakan kami makin cepat, erangan Umi makin hebat. Aku duduk dan memeluk pinggangnya. Kami berciuman dalam posisi Umi duduk berhadapan di pangkuanku. Aku bebas mengeksplorasi tubuhnya dengan tangan dan bibirku.

"Aaagghh.. Anto..," teriaknya. Kini saatnya kuambil alih kembali kendali permainan.

Kubalikkan tubuhnya dan langsung kugenjot dengan tempo tinggi dan menghentak-hentak. Nafas kami semakin memburu. Kuganti pola gerakanku. Kucabut penisku dan kumasukkan kembali setengahnya. Demikianlah kulakukan berulang-ulang sampai beberapa hitungan dan kemudian kuhempaskan pantatku dalam-dalam.

Umi setengah terpejam sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan desahan seperti orang yang kepedasan. Pinggulnya tidak berhenti bergoyang dan berputar semakin menambah kenikmatan yang terjadi akibat gesekan kulit kemaluan kami. Lubang vaginanya yang memang sempit ditambah dengan gerakan memutar dari pinggulnya membuatku semakin bernafsu. Ketika kuhunjamkan seluruh penisku ke dalam vaginanya, Umi pun menjerit tertahan dan wajahnya mendongak.

Aku menurunkan tempo dengan membiarkan penisku tertanam di dalam vaginanya tanpa menggerakkannya. Kucoba memainkan otot kemaluanku. Terasa penisku mendesak dinding vaginanya dan sedetik kemudian ketika aku melepaskan kontraksiku, kurasakan vaginanya meremas penisku. Demikian saling berganti-ganti. Aku yakin sebagai seorang instruktur senam ia sangat menguasai gerakan ini.

Permainan kami sudah berlangsung beberapa saat. Kedua kakinya kuangkat dan kutumpangkan di pundakku. Dengan setengah berdiri di atas lututku aku menggenjotnya. Kakinya kuusap dan kucium lipatan lututnya. Ia mengerang dan merintih-rintih.

Lagu dalam CD sudah berganti dengan "Je T'Aime Moi Non Plus" (Sorry Monsieur, if the spelling is not correct!). Suara desahan kedua penyanyinya menambah gairah kami. Aku memberi isyarat kepadanya untuk menutup permainan ini. Kubisikkan.

"Kita selesaikan bersama-sama dengan lagu ini".

Ia pun mengangguk. Kukembalikan dalam posisi normal. Kamipun berpelukan dan bergerak liar tanpa menghiraukan keringat kami yang bercucuran.

Gerakan demi gerakan, pekikan demi pekikan telah kami lalui. Aku semakin cepat menggerakkan pantat sampai pinggangku terasa pegal, namun tetap kupertahankan kecepatanku. Umi menjambak rambutku dan membenamkan kepalaku ke dadanya, betisnya segera menjepit erat pahaku. Badannya menggelepar-gelepar, kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tangannya semakin kuat menjambak rambutku dan menekan kepalaku lebih keras lagi.

Aku pun semakin agresif memberikan kenikmatan kepada Umi yang tidak henti-hentinya menggelinjang sambil mengerang.

"Aaahh.. Ssshh.. Ssshh" Gerakan tubuh Umi semakin liar.
"Ouoohh nikmatnyaa.. Aku ingin segera sampai.."

Dari speaker, lagu yang menggambarkan dua orang yang sedang bersetubuHPun sudah hampir mencapai puncaknya.

"Nowww.. Ouhh.. Now.. Ahhkk!"

Aku merasa ada sesuatu yang mendesak-desak di dalam kontolku ingin keluar. Sudah saatnya aku menghentikan permainan ini. Aku mengangguk dan iapun mengangguk sambil memekik panjang, "Ouuwww..!"

Aku mengangkat pantatku, berhenti sejenak mengencangkan ototnya dan segera menghunjamkan penisku keras-keras ke dalam vaginanya. Nafasnya seolah-olah terhenti sejenak dan kemudian terdengarlah erangannya. Tubuhnya mengejang dan jepitan kakinya diperketat, pinggulnya naik menjambut penisku. Sejenak kemudian memancarlah spermaku di dalam vaginanya, diiringi oleh jeritan tertahan dari mulut kami berdua.

"Awww.. Aduuh.. Hggkk"

Kami pun terkulai lemas dan tidak berapa lama sudah tidak ada suara apapun di dalam kamar kecuali intro dari "Top of the World". Tangannya memeluk erat tubuhku dengan mesra.

Ketika pada pagi hari mandi bersama, kugoda dia dengan tongkat maduranya itu. Ia mencubit dan memukuliku. Rupanya dia setiap hari menyodok miliknya dengan tongkat tersebut. Akibatnya jadi terlalu kering. Akhirnya kusarankan untuk menggunakannya dua atau tiga hari sekali. Dan setelah itu aku tidak perlu bantuan baby oil lagi, tetapi rasanya masih keset dan legit. Sedikit lendir memang ada, tetapi hanya untuk sekedar pelumasan.

Aku langsung berangkat ke kantor dari rumahnya. Beberapa bulan kemudian aku masih menikmati tubuhnya. Umi mengerti bahwa hubungan kami ini tidak melibatkan rasa cinta asmara, melainkan sekedar sex just for fun.

Sampai akhirnya perusahaanku mencabut fasilitas fitness karena alasan kondisi keuangan. Lama kelamaan akupun mulai menjaga jarak dan akhirnya aku berpisah dengannya secara baik-baik setelah kami berbicara semalam penuh diselingi percumbuan yang sangat panjang.

*****

Itulah ceritaku mengenai Wanita Indonesia (dari 1- 8). Sebenarnya masih ada beberapa wanita lain, namun kisahnya tidak sehangat yang telah kuceritakan. Dalam rentang waktu sekian lama tersebut aku menjalin hubungan dengan beberapa wanita sekaligus. Kadang ada yang datang dan ada yang pergi. Berikutnya akan kuceritakan kisah-kisahku dengan petualangan lainnya.

Ahh, indahnya pesona wanita Indonesia!

Tamat

0 comments:

Post a Comment